Sunday, 5 May 2019

Loker Jawa Tengah 6 Mei 2019

Web penyedia informasi lowongan kerja terupdate dengan tingkat keakuratan 99% hanya di LOKER JAWA TENGAH.




















Friday, 3 May 2019

April 2019


















Thursday, 28 February 2019

Tanda Tangan Juragan Batik

Dalam batik koleksi ini, Anda akan menjumpai sejumlah batik yang sama atau mirip dengan yang dimiiiki oleh Tropenmuseum di Amsterdam ataupun oleh kolektor- kolektor lain.
Pembuatnya memang tidak selalu mengbasilkan sehelai saja, tetapi bisa beberapa helai kalau batik itu bagus dan peminatnya banyak. Namun persamaan atau kemiripan itu bisa juga terjadi akibat titu-meniru dan bahkan jiplak-menjiplak yang sudah merebak sejak waktu itu. Sekadar contoh: Batik yang menggambarkan dongeng Si Tudung Merah atau Red Riding Hood atau Roodkapje termasuk laris sampai banyak ditiru. Begitu puia gambar bangau Lien Metzelaar dan buketan E. van Zuylen.
Supaya pelanggan tidak terkecoh oleh peniru, sejak 1870 juragan-juragan Indo-Eropa dan kemudian juga para juragan lain, memberi tanda tangan di sisi kiri atas bagian kepala kain yang sudah digambari dengan malam. Tapi cuma dengan pensil, lalu perajin menelusuri tanda tangan itu dengan canting untuk ditutupi dengan malam.
Penghasil batik belanda yang paling terkenal, Eliza (Lies) van Zuylen, menandatangani batiknya sejak awal proses pembuatan. Tidak cukup dengan tanda tangan, tetapi juga dengan cap tinta cina seperti yang dilakukan juragan-juragan batik Cina peranakan sebelumnya. Bahkan ia memberi nomor pada batiknya. Namun rupanya itu bukan jaminan untuk tidak ditiru.
Selain untuk melindungi desain dan melindungi batik dari dicuri saat pengerja batik membawanya ke tempat lain untuk pewarnaan, membubuhkan cap yang berisikan nama dan alamat pembatik juga merupakan sarana untuk beriklan.



Penjaga Empat Penjuru Dunia

Berabad~abad sebelum tarikh Masehi, orang-orang Cina percaya kalau dunia dijaga oleh empat makhluk sakti. Naga berjaga di Timur, Kilin di Barat, Burung Hong di Selatan dan Kurakura di Utara. Cina berada di tengah kawasan yang dijaga itu.
Naga
Naga Cina disebut Long dalani bahasa Mandarin, dan Liong dalarn dialek Hokian. Ia mulai dikenal sejak kira~kira 3.000 tahun yang lalu.

Penampilannya berbeda dengan Naga Jawa yang seperti ular bermahkota, dengan Naga Eropa yang mirip dinosaurus bersayap dan dengan Naga India yang sering digambarkan mirip uiar kobra. Naga Cina ada bermacam-macam jenisnya. Yang paling dikenai adalah yang hijau kebiruan.
Kepalanya dikatakan seperti kepala kuda atau unta, tetapi bermisai. Giginya runcing seperti gigi harimau, tanduknya seperti milik rusa jantan raksasa, sedangkan matanya seperti mata keiinci. Ada pula yang menyatakan matanya seperti mata setan. Daun telinganya seperti miiik lembu jantan. Tubuhnya panjang seperti ular, ditutupi 117 sisik yang bentuknya seperti sisik ikan ernas. Keempat kakinya niemiliki cakar seperti elang. Cakarnya bias lima, empat atau tiga.

Soal cakar ini tidak boleh sembarangan. Naga adalah lambang kaisar Cina. Curna naga kekaisaran yang boleh meniiiiki lima cakar. Pakaian pembesar di bawah kaisar cuma boleh dihias dengan naga bercakar empat. Naga bercakar tiga adaiah miiik orang-orang yang berkedudukan sosiai lebih rendah lagi.
Naga yang berpenampilan demikian dikenal pula di Jepang, Korea dan di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Konon naga kekaisaran Korea di Istana Gyeongbok yang terletak di sebeiah utara Seoul memiiiki tujuh cakar, tetapi disembunyikan di atas kasau penyangga atap supaya tidak ketahuan kaisar Cina. Akhirnya Jepang yang menghancurkan istana itu, bukan Cina.A1asannya pun bukan karena naga bercakar tujuh.
Naga kerap digambarkan dikelilingi air atau awan. Makhluk ini diagungkan karena dipercaya memiliki kekuasaan dan kesaktian yang luar biasa. Ia bisa terbang, bisa pula hidup di dasar lautan dan ada pula yang tinggal di dalam tanah.
Naga Cina umnmnya dianggap sebagai pelindung, penolak bala, pemberi rezeki dan kesuburan karena menurunkan hujan, Walaupun kalau sedang murka bisa mendatangkan kemarau panjang dan banjir di darat serta badai di laut.
Hiasan berupa naga pada pakaian, bangunan, perabot rumah tangga, keramik dsb. dianggap bias menolak bala dan memberi keberuntungan. Jadi berbeda dengan Naga Eropa yang dianggap sebagai makhluk jahat pembawa bencana. Sampai saat ini, kain batik untuk menggendong anak, banyak yang masih dihiasi dengan gambar naga.
Banyak orangtua Cina mengharapkan putranya “menjadi naga artinya sukses dan berkuasa. Harapan ini di antaranya dinyatakan dengan rnemberi nama “Long” atau “Lung/Loong” atau “Liong” kepada anaknya. Kadang-kadang ada anak bernama “Long” atau “Leong” atau “Liong” yang sering sakit gara-gara “keberatan namaf sehingga harus diberi nama baru dalam usaha menyembuhkannya.
Bukan cuma orang, konon ikan pun banyak yang ingin menjadi naga. Untuk itu mereka harus berusaha mengatasi pelbagai kesulitan dalam mencapai air terjun “Gerbang Naga” di Sungai Kuning. Kalau mereka berhasil melompati air terjun itu, berarti mereka lulus ujian dan berubah menjadi naga.
Tiap jenis naga memiliki tugas yang berbeda. Yang banyak dikenal di Indonesia adalah Donghai Longwang, Raja Naga dari Laut Timur. Tokoh itu dalam dialek Hokian biasa disebut Hai Liong Ong.
Burung hong
Burung hong (fenghuang) sering disebut sebagai phoenix, Walaupun sebenarnya berbeda dari phoenix yang berasal dari Mesir.

Pada kain-kain batik di Indonesia ia digambar kan berbeda-beda. Kadang-kadang penampilannya rnirip burung kuao dengan ekor panjang dan indah. Kadang-kadang distilasi sehingga cuma berbentuk garis-garis sederhana. Burung hong bisa merah, bias juga berwarna-warni. Konon warna-warna pada bulu burung itu melambangkan lima sifat baik yang patut diutamakan. Hitam melambangkan kesetiaan, putih kejujuran, merah kesantunan, hijau keadilan dan kuning kemurahan hati.

Kalau Naga bersifat yang, maka burung hong bersifat yin. Kalau naga merupakan lambang kaisar, maka burung hong melambangkan permaisuri. Kalau naga melambangkan keperkasaan, maka burung hong melambangkan kelembutan dan keanggunan. Di Jawa pada masa yang silam, burung hong pada batik dianggap penolak bala.
Naga yang disandingkan dengan burung hong melambangkan kebahagiaan pernikahan.
Kilin
Qilin atau kilin adalah makhluk bertubuh seperti rusa tetapi bersisik seperti ikan emas. Kepalanya seperti naga, lengkap dengan tanduknya. Ada kilin yang digambarkan cuma memiliki satu tanduk, sehingga Salah kaprah dikatakan Unicorn Cina. Kuku kakinya seperti kuku sapi, Walaupun ada yang mengatakan seperti kuku kuda. Ekornya seperti ekor singa, tetapi ada yang menggamharkannya seperti ekor Sapi. Kadang-kadang tubuhnya digambarkan berapi-api.

 Walaupun penampilannya sangar, kilin dianggap makhluk yang lembut. Ia melangkah hati-hati supaya ticlak menginjak makhluk dan bahkan juga tanaman hidup. Kilin dikatakan Vegetarian. Bahkan ia hanya makan rumput yang sudah kering, bukan rumput hidup. Ia mampu berjalan cli atas air. Konon kilin muncul menjelang kelahiran orang bijak seperti umpamanya Kong Fuzi, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Kong Hu Cu (551-479 SM), seorang pemikir dan filsuf sosial yang termasyhur.
Selain mengisyaratkan kabar baik, kilin melambangkan kemurnian, kebenaran, keadilan, kemak-muran Serta kedamaian. Ia juga dianggap pemberi kesuburan kepada orang-orang yang mandul.
Ketika Laksamana Zheng He (1371-1435) kembali ke Cina dari salah satu perlawatannya, ia membawa sepasang jerapah dari Afrika Timur. Banyak orang mengira binatang itu kilin, padahal lehernya sangat panjang. Laksamana Zheng He, seorang kasim yang beragama Islam, sempat singgah di beberapa pelabuhan di Nusantara. Di Indonesia ia lebih dikenal sebagai Laksarnana Cheng Ho. Di Semarang ada kelenteng tempat ia dipuja dan disebut Sam Poo Kong.
Kilin sudah dikenal pada abad ke-5 sebelum Masehi. Namun, kemudian kedudukannya sebagai penjaga dunia digantikan oleh harimau putih.
Kura-kura
Dari empat makhluk penjaga dunia itu, hanya kura-kura yang bisa kita saksikan dalam kehidupan nyata. Tempurung kura-kura bagian atas dianggap sebagai kubah langit atau surga dan bagian bawahnya sebagai bumi. Karena umur kura-kura relative panjang, ia dijadikan lambang panjang umur dan bahkan keabadian.

 Kuta-kura menjadi pahlawan yang tangguh dalam banyak legenda Cina, sehingga disebut “Pejuang Hitam” yang melambangkan kegigihan, kekuatan dan tidak terternbus musuh.karena itulah tentara kaisar membawa bendera naga yang melambangkan kekuatan yang tak tertahankan dan bendera kura-kura yang melambangkan pertahanan yang tidak tertembus lawan.
Selain itu, kura-kura dianggap mengundang rezeki dan nasib baik. Sampai sekarang, masih dikenal sesaji dan penganan dari tepung ketan yang dicetak berbentuk kura-kura. Kue ku ketan yang diisi adonan kacang itu rasanya manis dan dibuat untuk mengundang kemakmuran, keserasian dan kearnanan, Walaupun kini di Indonesia sebagian orang menganggapnya sebagai penganan biasa.

Gendongan Memberi Rasa Aman

Di masa yang lampau, bagi banyak penduduk Indonesia, batik merupakan barang yang menyertai mereka dari lahir sampai meninggal. Bayi digendong atau dibuai dengan kain batik. Ranjangnya rnungkin dialasi dengan batik. Kalau ia menangis, ibunya menyapu air matanya dengan ujung kain batiknya. Kemudian ia memanfaatkan batik sebagai selirnut atau pakaian atau ikat kepala.
Ketika ia tua dan meninggal, jenazahnya dibaringkan di atas hamparan kain batik atau ditutupi dengan kain batik sebelum dibawa ke makam. Perempuan Cina peranakan banyak yang dibekali batik kesayangannya saat dimasukkan ke peti jenazah.
Di masa yang lampau, batik memang akrab dengan manusia Indonesia dan memberi rasa aman. Menurut Rens Heringa, di Tuban selendang untuk gendongan disebut sayut. Sayut artinya “membalut”, “melingkar”, “bersatu membela sesama”, Sementara dalam bahasa Jawa Kuno, sayut berarti menolak bala.
Motif yang ada pada sayut ini pun sarat makna. Misalnya, sayut dengan satu warna (biru), biasanya disebut putihan, dianggap mempunyai kekuatan untuk melindungi anak. Konon menurut filsafat orang Jawa, warna biru-putih berhubungan dengan arah timur laut, yang terletak antara arah utara (kematian) dan timur (kelahiran), yaitu daerah siklus kehidupan manusia yang berulang.
Meskipun banyak orang menggunakan kain panjang sebagai aiat untuk menggendong anak, sebenarnya ada batik yang khusus dibuat untuk gendongan. Panjangnya sekitar 300 X 80 cm atau 300 X 100 cm, dengan perbedaan ukuran yang tak jauh dari itu.
Kota-kota penghasil batik yang diketahui memproduksi gendongan antara lain adalah Lasem, Pekalongan, Madura, Juwana, Cirebon dan Tasik malaya. Meskipun gendongan umumnya memiliki kepala seperti kain sarung, ada juga gendongan tanpa kepala yang sepintas mirip seperti kain panjang.
Motif kain gendongan ini juga cukup variatif dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Cina. Dari yang motif buketan sampai motif hewan. Motif hewan biasanya sarat dengan symbol di dalamnya. Bagi kaum Cina peranakan, gajah misalnya melambangkan kekuatan, memiliki moral yang tinggi, dan kesabaran. Sementara kilin yang melambangkan kebijakan dianggap sebagai penjaga pintu surga. Dengan memakai gendongan bermotif kilin diharapkan si anak akan mendapatkan rasa aman. Angsa dimaknai sebagai lambang keindahan, burung hong dianggap menjadi lambing kebaikan atau keberhasilan. Kupu-kupu melambangkan cinta kasih. Jika burung melambangkan kebahagiaan, maka anjing melambangkan keuntungan yang akan diperoleh. Bahkan kalajengking yang beracun, dianggap penghalau roh jahat.
Selain hewan, motif flora juga memiliki arti yang bermacam-macam. Bunga teratai misalnya, dipercaya akan membawa keberuntungan bagi anak yang digendong, bunga botan, anggur dan sulur mencerminkan umur panjang.


Cerita Wayang Di Balik Batik Wayang

BATIK WAYANG
Batik laksana wayang beber ini dibuat di pembatikan Nyonya Carolina Maria Meyer~ de Batts sekitar tahun 1870-1880. Ny. Meyer adalah seorang wanita Indo-Belanda yang lahir di Yogya dan meninggal di Pekalongan.
Tropenmuseum di Amsterdam juga mempunyai kain kuno bermotif wayang yang menceritakan cerita Panji. Namun yang ditampilkan dalam batik Ny. Meyer ini adalah cerita Wayang yang diilhami kakawin Arjuna Wiwaha karangan Mpu Kanwa sekitar tahun 1030, yaitu pada masa pemerintahan Raja Airlangga (1019-1042) di Iawa Timur.
Menarik sekali bahwa selain tokoh-tokoh wayang, lengkap dengan gunungannya, pada kain ini kita melihat tumbuh-tumbuhan seperti manggis dan juga burung hong dan burung lain, serta kalajengking, kaki seribu, capung, laba-laba, cecak, kelelawar dan kupu-kupu yang ukurannya tidak proporsional dibandingkan dengan ukuran manusia dan dewa di kain itu. Walaupun motif utama pada kain ini diberi warna biru dari bahan indigo dan dibuat di Pekalongan, tetapi warna merah tepinya dibuat di Lasem.
Latarnya yang putih tua diberi hiasan cocohan, yaitu titik-titik yang dibuat dengan menusuk-nusukkan alat yang ujungnya berupa deretan jarum pada kain yang sudah ditutupi malam, sebelum pencelupan.
Berikut ini cerita Arjuna Wiwaha versi wayang.

CERITA WAYANG

 1. Seorang raksasa sakti bernama Niwatakawaca bersiap-siap menyerbu kahyangan kediaman Batara Indra. Raksasa itu tidak bisa dikalankan olen dewa rnaupun raksasa. Ia nanya bisa dikalankan olen manusia. Jadi, para dewa berunding mencari manusia yang tepat untuk rnengnadapi raksasa itu. Pilinan aknirnya jatuh pada Arjuna. Namun ia sedang bertapa memohon kesaktian di G. lndrakl|a.Tapi mau dan mampukan Arjuna mengalankan Niwatakawaca?
2. Batara Narada nnengutus tujuh bidadari cantik, diantaranya Dewi Suprabha untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa. Ternyata Arjuna tidak tergoda. Sekali lagj Arjuna diuji. Batara Indra mendatangjnya dengan menyamar sebagai resi tua. Arjuna nnenghentikan tapanya sejenak untuk rnelayani.Terungkaplah tujuan Arjuna bertapa, yajtu meminta kesanggupan rnenegakkan keadilan, Indra pulang dengan keyakinan Arjuna mau rnembantu dan Batara Guru akan berkenan menganugerahkan senjata pannungkas kapada Arjuna
3. Niwatakawaca rnendengar apa yang terjadi di Indrakita diutusnya seorang raksasa bernama Mamangmuka untuk rnennbunuh Arjuna. Mamangmuka dalarn wujud seekor babi hutan mernbuat kegaduhan di pertapaan Arjuna. Arjuna keluar dan rnemanah babi hutan itu. Pada saat yang bersarnaan, rnuncullah Batara Guru yang menyarnar sebagai seorang pernburu dan suku Kirata dan melepaskan anak panah juga. Anak panah mereka sarna-sama rnengenai babi nutan itu.
4. Mereka bertengkar, masing-masing mengaku dirinyalah yang rnernbunuh babi hutan itu terjadilah perang tanding yang seru. Saat Arjuna hampir kalah, ia tidak mau rnelepaskan kaki lawannya, Saat itulah Batara Guru nnenampakkan jati dirinya dan memberi Arjuna anak panan Pasopati yang tidak bisa dinindari lawan. Lalu dating utusan Dewa Indra, rnerninta Arjuna membantu mernbunuh Niwatakawaca. Arjuna bersedia.

  5. Di kahyamgan diaturlah strategi umtuk memgetahui titik kelemaham raksasa itu. Dewi Suprabha yang samgat camik dan sudah lama menjadi incaran Niwatakawaca pura-pura meminta perlimdurngan kepada sang raksasa. Niwatakawaca sangat senang. Berkat rayuan Suprabha, diketahuilah bahwa kelemahan raksasa itu terletak pada langit-langit mulutnya. Sememara itu, Arjuna yang memakai aji pamglimunan untuk tidak tampak, selalu mendampingi Suprabha supaya tak dapat disemuh oteh Niwatakawaca.
6. Dewi Suprabna merninta Niwatakawaca untuktidak menyentuhnya sampai keesokan harinya, Niwatakawaca mengabulkan permintaan itu. Namun, begitu rnengetahui kelemahan raksasa itu, Arjuna segera rnelarikan Suprabha kernbali ke kahyangan Batara Indra. Ketika menyadan ia kena tipu, Niwatakawaca tentu saja sangat gusar. Bersama Momongdono dan Buto Cakil ia langsung menyerbu kahyangan tempat Dewa Indra. Karena para raksasa itu sangat sakti, lawannya pun Segera kocar-kacir.
7. Arjuna mernbaur di antara tentaranya. Para punakawan rnernancing Niwatakawaca agar marah. Raksasa itu berkoar~koar karena sangat murka. Akibatnya, ia tidak waspada. Saat mulutnya terpentang lebar, Arjuna segera melepaskan anak panannya. Karena ia pemanah yang ulung, anak panannya tepat menancap di iangit-langit mulut raksasa itu. Nwatakawaca pun langsung tewas. Anak buahnya pun bias dikalahkan dengan mudah.
8. Sebagai imbalan atas jasa Arjuna, ksatria Pandawa itu langsung dinikahkan dengan tujuh bidadari, diantaranya dengan Dewi Suprabha dan Dewi Tilotama. Namun, tujuh hari kemudian atau tujuh bulan menurut hitumgam di bumi, Arjuna pamit untuk kembali kepada saudara-saudaramya di bumi. Walaupum hidup di kahyangan lebih meyenangkan, tetapi batinnya terdorong umtuk menegakkan keadilan di kalangan manusia di bumi.
.

Wednesday, 27 February 2019

Kain panjang berbadan lereng


Kain panjang ukuran 251 X106 cm Badan: Lereng Tahun:ca.195O Asal: Garut Pembatikan: Ny. Tan Tjeng Tong Pengaruh: Jawa